Cara Mengoperasikan Mesin Penetas Telur PUI-100 dan PUI-30
1. Pengaturan Suhu Otomatis
Mula-mula stecker disambungkan dengan sumber listrik sehingga lampu pijar akan menyala. Usahakan tidak ada udara yang masuk kedalam mesin tetas dengan menutup lubang ventilasi dan pintu tertutup rapat. Beberapa menit kemudian “kapsul” thermostat akan mengembang dan setelah batas tertentu ujung kapsul akan menekan sakelar (mikroswitch) sehingga saluran listrik akan mati. Terhentinya aliran dan padamnya lampu pijar akan menyebabkan suhu dalam ruang mesin tetas menjadi turun sehingga kapsul mulai mengempis lagi dan ujungnya menjauhi sakelar, akibatnya aliran listrik hidup kembali dan lampu pijar menyala. Proses ini berjalan terus-menerus sehingga merupakan pengatur suhu otomatis.
Menseting Thermostat
Thermostat adalah alat yang berfungsi untuk mengatur temperature (suhu) dalam mesin tetas secara otomatis (Gambar 1). Apabila alat ini terkena panas maka kapsul akan mengembang sehingga akan menekan sakelar (mikroswitch) dan aliran listrik akan terputus, sebaliknya apabila suhu turun maka kapsul akan mengempis dan akan menyalakan kembali lampu pijar sebagai sumber panas. Untuk menseting thermostat agar dapat memutus dan menyambung kembali aliran listrik yang menuju ke lampu pijar tidaklah sulit, untuk mengaturnya dengan cara memajukan atau memundurkan putaran baut penyangga kapsul.
Gambar 1
Cara mensetting thermostat adalah sebagai berikut :
- Untuk menaikkan suhu maka putarlah baut penyangga kapsul menjauhi sakelar (mikroswitch) / putar ke kiri.
- Untuk menurunkan suhu maka putarlah baut penyangga kapsul mendekati saklar (mikroswitch) / putar ke kanan.
Sebelum mesin tetas digunakan, sebaiknya sudah dipersiapkan pula lampu minyak (lampu teplok) untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman listrik PLN.
2. Mensucihamakan (Fumigasi) Ruangan Mesin Penetas
Sebelum penetasan dimulai, ruang mesin tetas harus disucihamakan lebih dahulu supaya bibit-bibit penyakit seperti Salmonella pullorum, infeksi pusar (Omphalitis) dan sebagainya dapat dihilangkan. Kuman tersebut dapat menyebar melalui mesin tetas dan mengurangi daya tetas telur. Kuman ini berasal dari sisa-sisa cangkang telur, kotoran anak ayam yang baru menetas di dalam mesin tetas pada penetasan sebelumnya.
Mensucihamakan dapat dikerjakan dengan dua cara, yakni Cheese cloth method (menggunakan larutan formalin) dan Potassium permanganate method (campuran larytan formalin dan kalium permanganate). Metode pertama dikerjakan dengan cara mncelupkan kain bersih ke dalam larutan formalin 40%. Kebutuhan luas ruangan mesin tetas terhadap larutan tersebut adalah 8,4 ml/1 m2. Kain yang telah dibasahi larutan tadi digantungkan selama 1-3 jam di dalam mesin tetas yang belum dihidupkan.
Prinsip kerja metode kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama, hanya saja larutan yang digunakan adalah campuran antara larutan formalin 40% dan kalium permanganate. Setiap 1 m2 ruangan mesin tetas membutuhkan 12,6 ml formalin dan 6,3 gram kalium permanganate. Kain yang telah dibasahi dengan larutan tersebut diletakkan di dekat lubang ventilasi.
3. Cara Memutar Telur
- Untuk mesin penetas tipe PUI-100 cara pemutaran telur dilakukan dengan menggerakkan handle yang berada di sebelah kanan kotak tetas.
- Untuk mesin penetas tipe PUI-30 cara pemutan telur dilakukan dengan membalik satu persatu telur yang berada di rak telur.
Pelaksanaan Penetasan Telur
Teknis pelaksanaan penetasan dari hari ke hari adalah sebagai berikut :
- Setting terlebih dahulu suhu didalam mesin penetas sesuai dengan suhu penetasan dari jenis telur yang akan di tetaskan. Biarkan selama sekitar 1 jam sampai suhu didalam mesin tetas benar-benar stabil. Untuk mengetahui suhu penetasan silahkan lihat (Tabel 2).
- Isi bak/nampan air dengan air bersih dan letakkan dibawah rak telur. Bak/nampan air harus selalu di kontrol setiap saat jangan sampai habis, mulai dari awal sampai dengan akhir penetasan. Fungsi air ini adalah untuk menciptakan kelembaban di dalam mesin tetas.
- Jika suhu sudah stabil, silahkan masukkan telur-telur yang akan ditetaskan, tutup pintu mesin tetas.
- Mulai dari hari ke-1 sampai dengan hari ke-3 lubang ventilasi dalam kedaan tertutup, dan telur-telur tidak boleh digerakkan.
- Lakukan pembalikan telur-telur pada hari ke-4 sampai dengan 3 hari sebelum telur-telur menetas. Pembalikan telur dilakukan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore) atau minimal 2 kali sehari (pagi dan sore).
- Untuk mengetahui saat berhenti melakukan pemutaran telur, silahkan lihat (Tabel 2).
- Pada hari ke-7 lakukanlah peneropongan telur (Candling), dengan tujuan untuk mengetahui telur yang hidup, telur yang kosong, dan telur yang mati. Keterangan mengenai hasil peneropongan telur silahkan lihat pada hasil peneropongan. Untuk telur-telur yang kosong (infertile) sebaiknya dikeluarkan dan masih layak untuk dikonsumsi.
Tabel 2
| Jenis Telur | Lama Penetasan | Suhu (oC) | Stop Pemutaran Telur | Kelembaban (%) |
| Ayam | 21 hari | 37-38 | hari ke-18 | 65-70 |
| Kalkun | 28 hari | 37-38 | hari ke-25 | 65-75 |
| Itik | 28 hari | 37-38 | hari ke-25 | 65-75 |
| Bebek Menthok | 37 hari | 37-38 | hari ke-34 | 65-75 |
| Angsa | 28-30 hari | 37-38 | hari ke-25 | 65-75 |
| Love Bird | 23 hari | 37-38 | hari ke-20 | 65-70 |
| Pheasant | 24-28 hari | 37-38 | hari ke-22 | 65-75 |
| Merak | 28-30 hari | 37-38 | hari ke-25 | 65-75 |
| Puyuh (Bobwhite) | 23-24 hari | 37-38 | hari ke-20 | 60-70 |
| Puyuh (Coturnix) | 17 hari | 37-38 | hari ke-14 | 60-70 |
| Kenari | 14 hari | 37 | hari ke-11 | 60-70 |
| Merpati | 17 hari | 37-38 | hari ke-14 | 60-70 |